Peranan dan Perkembangan Pesantren pada masa kolonial ABSTRAK
Kendati praktik pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung cukup lama, tepatnya s ejak Islam masuk ke wilayah Nusantara sekitar 15 abad yang lalu, kajian tentang pendid ikan Islam di Indonesia masih sangat terbatas dibanding kajian keislaman lainnya. Tulis an berikut menyuguhkan kajian historis tentang pendidikan Islam di Indonesia khususny a padamasa kolonial. Kajian dilakukan dengan melakukan survey terhadap sejumlah bu ku sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Kajiannya diarahkan pada sejauh mana bukubuku dimaksud memberikan informasi ilmiah tentang sejarah pertumbuhan dan perkem bangan pendidikan Islam di Indonesia.
Kata kunci : buku, sejarah, pendidikan Islam, Indonesia.
PENDAHULUAN
Tidak ada data resmi tentang kapan pondok pesantren pertama muncul di Indonesia. Namun dari catatan para sejarawan, pesantren mulai dikenal di Nusantara sejak masuknya Islam di Indonesia. Menurut para ahli, pondok pesantren sebagai sebuah model lembaga pendidikan Islam mulai dike nal di Pulau Jawa sekitar permulaan abad ke-
15 atau kurang lebih 500 tahun yang lalu. Selama kurun waktu hampir setengah milenium itu, lem baga pesantren telah mengalami banyak perubahan di berbagai segi dan telah memainkan berbag ai macam peran strategis dalam masyarakat dan bangsa Indonesia. Pada era walisongo, peranan terpenting dari pondok pesantren tampak dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Pesantr en dengan figur kiayi atau wali juga memiliki kekuatan politis untuk melegitimasi sebuah kekuasaa n seperti yang terjadi pada kasus kerajaan Demak dan Pajang. Peran politis tersebut semakin men guat pada zaman penjajahan Belanda, dimana hampir semua peperangan melawan pemerintah ko lonial Belanda bersumber atau paling tidak mendapat dukungan sepenuhnya dari pesantren.
Adapun perkembangan pondok pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan tertua di Indonesia mulai menjamur khususnya di tanah Jawa sejak abad ke-
17. Keberadaan pesantren dalam sejarah Indonesia telah melahirkan hipotesis yang barangkali m emang telah teruji, bahwa pesantren dalam perubahan sosial bagaimanapun senantiasa berfungsi sebagai “platform” penyebaran dan sosialisasi Islam.
Nurcholish Madjid, menyebutkan bahwa pesantren mengandung makna keislaman sekaligus keas lian (indigenous) Indonesia. Kata "pesantren" mengandung pengertian sebagai tempat para santri atau murid pesantren. Sedangkan kata "santri" diduga berasal dari istilah sansekerta "sastri" yang berarti "melek huruf", atau dari bahasa Jawa "cantrik" yang berarti seorang yang mengikuti guruny a kemana pun pergi.
Dalam perkembangannya, pesantren tetap kokoh dan konsisten mengikatkan dirinya sebagai lem baga pendidikan yang mengajarkan dan mengembangkan nilainilai Islam. Realitas ini tidak saja dapat dilihat ketika pesantren menghadapi banyak tekanan dari p emerintah kolonial Belanda, namun pada masa pascaproklamasi kemerdekaan pesantren justru dihadapkan pada suatu tantangan yang cukup berat yai tu adanya ekspansi sistem pendidikan umum dan madrasah modern. Di tengah kondisi yang demi
kian, di mana masyarakat semakin diperkenalkan dengan perubahanperubahan baru, eksistensi lembaga pendidikan pesantren tetap saja menjadi alternatif bagi peles tarian ajaran agama Islam. Pesantren justru tertantang untuk tetap survive dengan cara menempa tkan dirinya sebagai lembaga yang mampu bersifat adaptatif menerima dinamika kehidupan.
Dalam perkembangan selanjutnya bentuk-
bentuk pendidikan di pesantren ini, kini sangat bervariasi, yang dapat diklasifikasikan sedikitnya m enjadi lima tipe, yaitu: (1) Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal yang menerapkan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA dan PT Agama Isl am) maupun yang juga memiliki sekolah umum (SD, SLTP, SMU, SMK, dan Perguruan Tinggi Umu m), seperti pesantren Tebu Ireng Jombang, pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak dan pesantren Syafi’iyyah Jakarta. (2) Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmuilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional, seperti pesantren Gontor Ponorogo, pesa ntren Maslakul Huda Kajen Pati (Matholi’ul Falah) dan Darul Rahman Jakarta. (3) Pesantren yang hanya mengajarkan ilmuilmu agama dalam bentuk madrasah diniyah, seperti pesantren Salafiyah Langitan Tuban, Lirboyo Kediri dan pesantren Tegalrejo Magelang. (4) Pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat peng ajian (majlis ta’lim), dan (5) Kini mulai berkembang pula nama pesantren untuk asrama anakanak pelajar sekolah umum dan mahasiswa. Maraknya pendidikan pesantren tipe ke-
5 (Pesantren Mahasiswa) yang muncul sejak dekade 80an ini sebenarnya menjadi sebuah fenomena yang sangat menarik untuk dicermati. Hal ini bukan s aja karena usia kelahirannya yang masih relatif muda, akan tetapi manajemen atau pengelolaan p esantren mahasiswa memiliki spesifikasi tersendiri. Berbeda dengan pesantren pada umumnya ya ng ratarata menyelenggarakan pendidikan keagamaan untuk jenjang pendidikan dasar sampai menengah
saja.
Di tengah dinamika sistem kehidupan dunia yang mulai meninggalkan nilainilai moral dan pranata sosial, tampak jelas geliat lembagalembaga pendidikan Islam khususnya pesantren menyiapkan peserta didiknya menjadi manusia y ang tidak saja memiliki kompetensi keilmuan dan life skill yang memadahi, namun juga menjunjun g tinggi aspek moral sebagai landasan berpijak. Pesantren adalah tempat dimana caloncalon pengemban amanah negara tumbuh dan belajar membekali diri dengan menyeimbangkan k
ebutuhan material dan spiritual untuk menyongsong hirukpikuk masa depan. Kekuatan elit pesantren tidak diragukan lagi sebagai bagian integral dari kelom pok agent of change diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pencerahan masyarakat.
Berdasarkan faktafakta historis, sangat sulit dipungkiri keterlibatan pondok pesantren dalam membentuk dan menc erdaskan bangsa Indonesia. Namun perkembangan konstelasi politik dan sistem pendidikan di In donesia telah sedikit banyak mengkaburkan peran tersebut sehingga seakanakan pondok pesantren tidak memiliki kontribusi yang memadai bagi lahirnya Indonesia sebagai s ebuah bangsa dan negara yang berdaulat serta berketuhanan.
Peranan dan Perkembangan Pesantren (Pendidikan Islam) pada masa kolonial
Terdapat kesepakatan diantara ahli sejarah Islam yg menyatakan bahwa pendiri pesantren perta ma adalah dari kalangan Walisongo, namun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa dari m ereka yg pertama kali mendirikannya. Ada yg mengganggap bahwa Maulana Malik Ibrahimlah pendiri pesantren pertama, adapula yg menganggap Sunan Ampel, bahkan ada pula yg menyat akan pendiri pesantren pertama adalah Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah. Akan tetapi penda pat terkuat adalah pendapat pertama.
Sedang mengenai pendapat yang menyatakan pesantren paling tua adalah pesantren Tegalsari Po norogo maka hal tersebut tidak sampai menafikan hal tersebut. Karena yang dimaksud adalah pe ndirian dan pelembagaan pesantren pertama kali.
Pondok pesantren menurut Djamaluddin (1998 : 99) adalah suatu lembaga pendidikan agama Isla m yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar, dengan sistem asrama (kampus) yang santri
-
santrinya menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dan kepemimpinan seorang atau beberapa orang kyai dengan ciriciri khas yang bersifat kharismatis serta independen dalam segala hal. Dalam bukunya “Tradisi Pe santren” Zamakhsyari Dhofier menyatakan; “pondok, masjid, santri, pengajaran kitabkitab islam klasik dan kyai merupakan lima elemen dasar dari tradisi pesantren”. Jadi bisa dibilang kelima hal tersebut adalah syarat atupun rukun berdirinya pondok pesantren. Satu hal yg menarik adalah disebutkanya masjid. Ya sejak zaman Nabi masjid memang menjadi pusat pendidikan isla m dan kedudukan ulama yang menjadi pewaris para nabi menuntut mereka untuk mewarisi sunna h nabi tersebut. Dan sejarah pun membuktikan bahwa pembangunan pondok selalu didahului den gan pembangunan masjid dimana sang kyai mengajar. Pada masa penjajan belanda pesantren m engalami ujian dan cobaan dari Allah, pesantren harus berhadapan dengan dengan Belanda yang sangat membatasi ruang gerak pesantren dikarenakan kekuatiran Belanda akan hilangnya kekuas aan mereka.
Sejak perjanjian Giyanti, pendidikan dan perkembangan pesantren dibatasi oleh Belanda. Belanda bahkan menetapkan resolusi pada tahun 1825 yang membatasi jumlah jamaah haji. Selain itu bela nda juga membatasi kontak atau hubungan orang islam indonesia dengan negaranegara islam yang lain. Halhal ini akhirnya membuat pertumbuhan dan pekembangan Islam menjadi tersendat.
Perlu diketahui, bahwa walaupun Walisongo berhasil mengislamisai sebagian besar wilayah nusa ntara, namun banyak atau bahkan sebagian besar dari mereka keislamannya belum sempurna. Ha l ini dapat dibuktikan dalam masa sekarangpun terdapat masyarakat yang rajin sholat puasa dan s ebagainya akan tetapi mereka masih mempercayai kepercayaan mistik animisme warisan nenek moyang mereka. Sebagian lagi dari mereka cuma mengenal islam melalui sholat puasa, larangan memakan daging babi, tradisi sunat saja tanpa mengenal yang lainnya. Dan pada masa penjajaha n belanda proses kelanjutan dari pengislaman ini terhambat dan tersendat oleh ulah penjajah Bela nda.
Pada akhir abad ke19 segera setelah Belanda mencabut resolusi yg membatasi jamaah haji, jumla h peserta jamaah haji pun membludak. Hal ini menyebabkan tersedianya guruguru pengajar islam dalam jumlah yang berlipatlipat yang dengan demikian ikut meningkatkan jumlah pesantren. Karena seperti hal yang kita keta hui, para jamaah haji pada waktu itu selain berniat untuk haji mereka juga sekalian untuk menuntu t ilmu, dan ketika mereka kembali ke Indonesia mereka mengembangkan ilmunya dan menyebark uaskanya.
Pada masa inilah banyak muncul ulamaulama indonesia yang berkualitas internasional seperti Syekh Ahmad Khatib Assambasi, Syekh Na wawi Albantani, Syeh Mahfudz AtTarmisi, Syeh Abdul Karim dll. Yang kepada mereka lah intisab keilmuan kyaikyai Indonesia bertemu.
Awal abad 20 atas usul Snouck Hurgronje, Belanda membuka sekolahsekolah bersistem pendidikan barat guna menyaingi pesantren. Tujuannya adalah untuk memperl uas pengaruh pemerintahan Belanda dengan asumsi masa depan penjajahan Belanda bergantung pada penyatuan wilayah tersebut dengan kebudayaan Belanda. Sekolahsekolah ini hanya diperuntukkan bagi kalangan ningrat dan priyayi saja dengan tujuan westernisas i kalangan ningrat dan priyayi secara umum. Kelak sebagai akibat dari sekolah model belanda ini a dalah munculnya golongan nasionalis sekuler yang kebanyakan bersal dari kalangan priyayi. Sebagai respon atas usaha Belanda tersebut para kyai pun mendirikan sistem madrasah yang dia dopsi dari madrasahmadrasah yang mereka temukan ketika menuntut ilmu di makkah. Selain itu pesantren juga mulai mengajarkan ilmuilmu umum seperti matematika, ilmu bumi, bahasa Indonesia, bahkan bahasa Belanda, yg dipelop ori oleh pesantren Tebu Ireng pada tahun 1920. Selain itu para kyai juga mulai membuka pesantre n-pesantren khusus bagi kaum wanita.
Hasilnya sungguh me.muaskan pondok pesantren semakin diminati. Dalam tahun 19201930 jumlah pesantren dan santrisantrinya melonjak berlipat ganda dari ratusan menjadi ribuan santri.
Menurut Rochidin Wahab (2004 : 17) Sebenarnya masalah pendidikan Islam, tidak dapat dibatasi oleh kekuatan Belanda, sadar atau tidak disadari oleh Belanda, kenyataannya pendidikan Islam sa nggup mengimbangi pendidikan Belanda, bersifat dan bertujuan memecah belah bangsa Indonesi a.
Ketika masa kolonial Belanda, memang bentuk permulaan, pendidikan Islam masih lah sangat sed erhana karena tempat belajar nya sendiri di durau atau langgar dan masjid. Yang penting bagi Gur u agama ialah dapat memberikan Ilmunya kepada siapa saja, terutama anak-anak.
Tempat-
tempat pendidikan sederhana seperti langgar dan masjid itu lah yang menjadi embrio terbentukny a sistem pendidikan pondok pesantren dan pendidikan Islam yang formal yang nanti disebut madr asah atau sekolah yang berdasar agama (Zuhairini : 212).
Pondok pesantren tumbuh sebagai suatu perwujudan dari sebuah strategi umat Islam untuk mem pertahankan eksistensinya terhadap pengaruh penjajahan Belanda atau juga usaha untuk memaju kan pendidikan, Islam tidak lepas dari tujuan untuk memperjuangkan bangsa Indonesia dari imperi alis, kata K.H Saifudin Zuhri (1976: 322). Dan juga salah satu alasan lain yaitu karena akibat surau atau masjid yang dijadikan tempat pusat pendidikan agama Islam tidak dapat lagi menampung ju mlah anakanak yang ingin mengaji. Ketika itu juga atas bantuan dari masyarakat membantu kyai atau guru a gama untuk memperluas bangunan sekitar area masjid dimana anak-anak atau santrisantri tanpa perlu bolak-balik ke rumahnya, maka dapat tinggal bersama kyai ditempat tersebut. Berikut beberapa perkembangan pendidikan Islam di wilayah-wilayah Indonesia a. Pendidikan Islam di Aceh
Materi pendidikan Islam di Aceh pada masa penjajahan Belanda adalah sebagai berikut: 1) Belajar huruf Hijaiyah (alfabeth Arab) 2) Juz ‘Amma (disebut Al-Qur’an kecil).
3) Mengaji Al-Qur’an (disebut Al-Qur’an besar).
Setelah perang Aceh melawan Belanda berakhir, pendidikan Islam di Aceh mulai berkembang, dita ndai dengan berdirinya berbagai pondok pesantren. Di pondok pesantren banyak dipelajari kitabkitab seperti: Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan lainnya. Berikutnya mulai lahir madrasah, salah satun ya madrasah Sa’adah Abadiyah di Blang Paseh Sigli yang didirikan pada tahun 1930 oleh Tgk. Dau d Berueh.
Madrasah itu memiliki tujuh kelas dengan lama masa belajar empat tahun. Materi yang diajarkan: bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama serta sedikit Ilmu Bumi Mesir dan Tarikh Islam. Lembagalembaga pendidikan seperti pesantren sebagai basis perlawanan penjajahan Belanda b. Pendidikan Islam di Minangkabau
Pendidikan Islam di Minangkabau mengalami perkembangan yang pesat karena banyaknya bukubuku pelajaran agama Islam yang masuk ke sana. Adapun susunan materi pendidikan Islam di Mi nangkabau antara lain:
1) Belajar huruf Hijaiyah seperti halnya di Aceh.
2). Pengajian kitab yang terbagi atas tiga tingkatan, yaitu:
– Nahwu, Saraf, dan Fiqih;
– Tauhid;
– Tafsir;
3). Pengajian ilmu Tasawuf, Mantiq, dan Balaghah.
Sistem pendidikan yang digunakan masih seperti masamasa awal, yaitu halaqah dan sistemmajelis taklim. Di Minangkabau yang menjadi pusat pendidik an awal permulaan Islam adalahSurau. Pada masa penjajahan Belanda mulai dibuat ruangruang berbentuk kelas, dinamakanmadrasah. c. Pendidikan Islam di Jambi
Pesantren Nurul Iman didirikan pada tahun 1914 oleh H. Abdul Samad seorang ulama besar di ja mbi. Pesantren ini juga berawal dari sistem halaqah kemudian menggunakan kelaskelas seperti madrasah modern. Pelajarannya juga begitu, dari sekedar ilmuilmu agama kemudian memasukkan ilmu umum yang dibimbing dua guru khusus.
a. Pendidikan Islam di Jawa Timur
Pendidikan Islam yang cukup terkenal di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda adalahTebuir eng, yaitu pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1904 M. Pada mulanya ha nya diajarkan agama dan bahasa Arab, kemudian setelah berdiri madrasah salafiyahmemasukkan ilmu-ilmu umum, seperti ilmu bintang, ilmu bumi dan lain-lain.
Pondok Pesantren Tebuireng terdiri atas empat bagian, yaitu: Madrasah Ibtidaiyah (lamanya 6 tah un), Madrasah Tsanawiyah (3 tahun), Mualimin (5 tahun), Pesantren dengan sistem halaqah. Pendidikan Islam di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanada tidak terlepas dari pengaruh org anisasi Nahdhatul Ulama yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H (3 Januari 1926) di Suraba ya.
b. Pendidikan Islam di Jawa Tengah
Lembaga Pendidikan Islam di Jawa Tengah yang paling berpengaruh berpusat di sekitar Kudus. R atusan pondok pesantren dan madrasah tersebar di seluruh pelosok Kudus, antara lain: AliyatusSaniyah Muawanatul Muslimin, Kudsiyah, Tsywiqut Tullab Balai Tengahan School, Mahidud Diniya h Al-Islamiyah Al-Jawiyah, dan lain-lain. c. Pendidikan Islam di Yogyakarta
Pendidikan Islam di Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda banyak didominasi oleh organisas i Muhammadiyah. Diantaranya yang terkenal adalah Kweekschool Muhammadiyah, Mualimat Muh ammadiyah, Zuama, Tabligh School, dan H.I.K. Muhammadiyah. Model pendidikannya dengan me nggabungkan antara pelajaran umum dengan agama. Selain Muhammadiyah juga ada pondok pe santren Krapyak.
d. Pendidikan Islam di Jawa Barat
Madrasah pertama adalah yang didirikan di Majalengka pada tahun 1917 oleh Perserikatan Umat I slam. Pondok Pesantren yang cukup berpengaruh adalah PP Gunung Puyuh di Sukabumi. Selain it u juga ada pondok pesantren Persatuan Islam (Persis), pondok ini terdiri dari dua bagian, yaitu Pes antren Besar (untuk para santri yang telah cukup umur untuk mendapatkan pendidikan agama) da n Pesantren Kecil (untuk anak-anak kecil yang pelaksanaannya di sore hari). 5. Pendidikan Islam di Batavia
Madrasah tertua di Batavia adalah Jamiat Kheir yang didirikan tahun 1905. Tingkatan sekolahnya antara lain: tingkat Tahdiriyah (1 tahun), tingkat Ibtidaiyah (6 tahun), tingkatTsanawiyah (3 tahun), Bagi lulusan terbaik Tsanawiyah bisa melanjutkan ke Mesir atau Mekkah. Madrasah lain yang juga punya andil besar bagi pendidikan Islam adalah madrasah Al-
Irsyad yang didirikan pada tahun 1913.
3. Pendidikan Islam di Sulawesi
Tidak banyak perbedaan tentang pendidikan Islam di Sulawesi dengan di Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan karena sumber yang sama, yaitu Mekkah. Kebanyakan madrasah di Sulawesi pada mulanya dipimpin oleh gurugur agama dari Minangkabau dan Yogyakarta. Madrasah yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan adalah madrasah Amiriyah Islamiyah di Bone. Mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini melip uti pelajaran agama dan pelajaran umum.
Madrasah Amiriyah Islamiyah terdiri atas tiga bagian, yaitu:
a. Ibtidaiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajrakan ilmu agama 50%;
b. Tsanawiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajarkan ilmu agama 60%;
c. Muallimin, lama belajarnya dua tahun, diajarkan ilmu agama 80%.
Tokoh yang cukup berpengaruh dalam mengembangkan pendidikan Islam di Sulawesi, antara lain adalah Syekh H. M. As’ad bin H. A. Rasyad Bugis. Madrasah yang didirikannya bernamaWajo Tarbi yah Islamiyah yang dikemudian hari berubah menjadi Madrasah As’adiyah.
3. Pendidikan Islam di Kalimantan
Madrasah yang tertua yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam di Kali mantan pada masa penjajahan Belanda adalah madrasah Najah Wal Falah di Sei Bakau Besar Me mpawah. Didirikan pada tahun 1918 M., setelah itu berdiri madrasah Perguruan IslamAssulthaniya h di Sambas pada tahun 1922 M.
Di Kalimantan pada masa penjajahan Belanda tidak banyak madrasah dan pesantren yang berdiri, namun andil dan maknanya cukup berarti dalam proses pertumbuhan dan perkembangan pendidi kan Islam di tanah air Indonesia ini di bagian timur.
Kebijakan-Kebijakan Pemerintah Belanda dalam Pendidikan Islam
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa kedatangan penjajah Belanda di bumi Nusantara untuk mengemban fungsi ganda, yaitu melakukan penjajahan dan salibisasi. Oleh karena itu, semboyan yang terkenal dari penjajah Belanda adalah Glory (kemenangan atau kekuasaan),Gold (emas atau kekayaan bangsa Indonesia), dan Gospel (upaya sabilisasi terhadap umat Islam di Indonesia). Dengan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa terhadap proses pertumbuhan dan perkemb angan pendidikan Islam di Indonesia, penjajah Belanda cenderung merugikan umat Islam. Penjaja h Belanda berusaha menghambat perkembangan pendidikan Islam, dengan terangterangan membiayai misionaris Kristen.
Banyak sikap mereka yang merugikan lajunya perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, misal nya:
ü Setiap sekolah atau madrasah/pesantren harus memliki ijin dari Bupati atau pejabat pemerintah Belanda.
ü Harus ada penjelasan dari sifat pendidikan yang sedang dijalankan secara terperinci.
ü Para guru harus membuat daftar murid dalam bentuk tertentu dan mengirimkannya secara perio dic kepada daerah yang bersangkutan.
Pada dasarnya banyak kerugian yang diderita oleh umat Islam dalam persoalan pendidikan pada masa penjajahan Belanda. Bahkan, tidak sedikit sekolah yang terpaksa ditutup atau dipindahkah k arena ulah penjajah Belanda terhadap bangsa Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda ini, pros es pendidikan Islam mengalami banyak tantangan dan hambatan, akan tetapi para tokoh Islam tet ap giat dan gigih dalam memperjuangkannya.
Pada akhir abad 19 M. Belanda mendirikan sekolahsekolah untuk tenaga kerja untuk kepentingan perusahaan Belanda. Pada awal abad 20 M. Beland a mulai memberikan pendidikan kepada masyarakat yang menggunakan sistem pendidikan Libera l, sebagaiamana dijelaskan di atas, sebagai tandingan dari perkembangan pesantren. Namun, han ya diperuntukkan bagi bangsawan dan pegawai pemerintah. Sehingga lembaga pendidikan agama tetap menjadi lembaga pendidikan yang bisa ditempati masyarakat pribumi.
Hal ini menjadi momentum awal bagi modernisasi pesantren. Apalagi pada awal abad ke- 20 M. p ara pembaharu Muslim, dalam rangka menjawab menjawab tantangan kolonialisme dan ekspansi
Kristen, banyak mendirikan madrasah-
madrasah modern yang secara terbatas mengadopsi sistem pendidikan Belanda
Karena itu pesantren mengadopsi tiga pembaharuan dalam sistem pendidikannya:
ü Dibukanya pesantren untuk santri putri yang ditandai oleh pesantren Denanyar Jombang ü Diadopsinya sistem madrasah untuk santri tingkat lanjut, namun sistem ini tidak diadopsi untuk mengganti sistem tradisional yang telah ada, namun untuk menambah.
ü Diadopsinya beberapa mata pelajaran umum ke kurikulum pesantren. Pesantren Tebuireng Jom bang dan Singasari Malang misalnya, mengajarkan bahasa Indonesia, bahasa Belanda, berhitu ng, ilmu bumi, dan lain-lain.
Pada tahun 1882 M. pemerintah Belanda mendirikan Priesterraden, lembaga yang mengawasi pen didikan dan kehidupan agama penduduk pribumi. Dari lembaga ini, pemerintah pada tahun 1905 mengeluarkan Goeroe Ordonantie yang mengatur siapa saja yang mengajar Islam harus minta izin
pemerintah. Pada tahun 1925 M. dikeluarkan Goeroe Ordonantie baru, yaitu mengatur bahwa guru
-
guru agama cukup memberikan informasi tertulis kepada pemerintah. Namun pada masa ini tidak semua Kyai boleh memberikan pengajaran mengaji. Hal itu lebih dikarenakan adanya gerakan org anisasi pendidikan yang tumbuh pesat seperti Muhammadiyah, PSI, dan lain sebagainya. Pada tah un 1932 M. pemerintah mengeluarkan Wilde School Ordonantie yang mengawasi madrasah dan s ekolah yang tidak memiliki izin dan mengajarkan materi yang dilarang oleh pemerintah dan lemba ga yang seperti ini harus ditutup. Peraturan keluar setelah munculnya gerakan nasionalismeislamisme yang dianggap akan merongrong kekuasaan Belanda.
Kebijakankebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda telah banyak merugikan pendidikan Islam ya ng berkembang pada masa itu. Namun, para cendekiawancendekiawan muslim tidak kenal menyerah dan dengan gigih terus memperjuangkan pendidikan I slam, walaupun harus melalui berbagai hambatan, halangan, dan rintangan
Sebagai respon atas penindasan belanda, kaum santri pun mengadakan perlawanan. Menurut Clif ford Geertz, antara 1820-1880, telah terjadi pemberontakan besar kaum santri di indonesia yaitu :
1. Pemberontakan kaum padri di sumatra dipimpin oleh Imam Bonjol
2. Pemberontakan Diponegoro di Jawa
3. Pemberontakan Banten akibat aksi tanam paksa yg dilakukan belanda
4. Pemberontakan di Aceh yang dipimpin antara lain oleh Teuku Umar dan Teuku Ciktidiro
Pada kurun waktu awal 1900-san inilah lahir organisasiorganisasi islam yg didirikan kalangan santri. Sebut saja SI yg didirikan Hos Cokroaminoto dan H Samanhudi, NU yg didirikan KH Hasyim Asy’ari, Muhammadiyyah yang dirikan KH Ahmad Dahlan, PERSIS (persatuan islam). Kesemuanya berjuang menegakkan agama Islam dan berusaha memb ebaskan Indonesia dari cengkeraman Belanda.
Pada masa penjajahan Jepang untuk menyatukan langkah, visi dan misi demi meraih tujuan, orga nisasiorganisasi tersebut melebur menjadi satu dengan nama Masyumi (majlis syuro muslimin indonesi a).
Pada masa Jepang ini pula kita saksikan perjuangan KH Hasyim Asy’ari beserta kalangan santri m enentang kebijakan kufur Jepang yang memerintahkan setiap orang pada jam 07:00 untuk mengh adap arah Tokyo menghormati kaisar Jepang yg dianggap keturunan dewa matahari sehingga beli au ditangkap dan dipenjara 8 bulan. Menjelang kemerdekaan kaum santri pun terlibat dalam peny usunan undangundang dan anggaran dasar relublik Indonesia yg diantaranya melahirkan piagam Jakarta. Namun oleh golongan nasioalis sekuler piagam jakarta tersebut dihilangkan sehingga kandaslah impian mendirikan negara Islam Indonesia.
Pesantren memang bila dilihat dari latar belakangnya, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya
dalam masyarakat yang terdapat implikasiimplikasi politis sosio kultural yang menggambarkan sikap ulama-
ulama Islam sepanjang sejarah. Sejak negara kita dijajah oleh orang barat, ulamaulama bersifat noncooperation terhadap penjajah serta mendidik santrisantrinya dengan sikap politis anti penjajah serta nonkompromi terhadap mereka dalam bidang pe ndidikan agama pondok pesantren. Oleh karena itu, pada masa penjajahan tersebut pondok menja di satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang menggembleng kaderkader umat yang tangguh dan gigih mengembangkan agama serta menentang penjajahan berkat j iwa Islam yang berada dalam dada mereka. Jadi di dalam pondok pesantren tersebut tertanam pa triotisme di samping fanatisme agama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pada masa itu
PENUTUP
Islam sebagai agama dan pesantren sebagai media dakwah Islam yang tersebar ke seluru h penjuru Nusantara tampil secara kreatif berdialog dengan masyarakat setempat (lokal), berada dalam posisi yang menerima kebudayaan lokal, sekaligus memodifikasinya menjadi budaya baru y ang dapat diterima oleh masyarakat setempat dan masih berada di dalam jalur Islam. Dalam pan dangan hidup santri, moralitas tradisi pesantren adalah pijakan yang jelas untuk mempertahankan tradisi kepesantrenan. Jadi dengan demikian moralitas yang terus di kembangkan adalah berdim ensi pada agama dengan tetap berada pada tataran tradisi pesantren dan selalu melihat pada per ubahan-
perubahan yang terjadi terhadap system pendidikan pesantren. Moralitas itulah yang akhirnya me mbentuk pandangan hidup santri terhadap pesantrennya.
Dengan demikian, maka system pesantren didasarkan atas dialog yang terus- menerus ant ara kepercayaan terhadap ajaran dasar ajaran agama yang di yakini memiliki nilai kebenaran mutla k dan realitas social yang memiliki nilai kebenaran relative. Moralitas inilah yang kelak membentuk pandangan hidup santri. Eksistensi pondok pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman, te ntunya memiliki komitmen untuk tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan su mber daya manusia (SDM) yang handal, kekuatan otak (berpikir), hati (keimanan), dan tangan (ket erampilan), merupakan modal utama untuk membentuk pribadi santri yang mampu mengikuti per kembangan zaman.
Dalam konteks inilah, pendidikan pesantren sebagai media pembebasan umat dihadapkan
pada tantangan bagaimana mengembangkan teologi multikultural sehingga di dalam masyarakat pesantren akan tumbuh pemahaman yang inklusif untuk harmonisasi agamaagama, budaya dan etnik di tengah kehidupan masyarakat
Daftar Pustaka
Djamaluddin,, Abdullah Aly. (1998) Kapita Selekta Pendidikan Islam. Pustaka Setia : Bandung Dhofie, Zamakhsyari. (1994). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. LP3ES : Jaka rta
Zuhairini. (2010). Sejarah Pendidikan Islam. Bumi Aksara: Jakarta
Wahab, Rochidin. (2004). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Alfabeta: Bandung
Zuhri, Saefudin. (1976). Sejarah Kebangkitan Islam. Al-Ma’rif: Bandung
___, (2011). Sejarah Pesantren. Tersedia (Online) : http://www.nuruliman.or.id/sejarahpesantren. [Diakses 11 Februari 2015)
ari hartono di 22.08
Berbagi ggggg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar